Pendahuluan
Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia salah satunya dipicu oleh keterlambatan deteksi komplikasi kehamilan seperti letak sungsang, plasenta previa, dan oligohidramnion di fasilitas kesehatan pelosok. Kehadiran gawai probe USG saku yang terhubung ke tablet membuka paradigma baru layanan antenatal care berbasis telemedisin.Arsitektur Perangkat dan Protokol Jaringan
Sistem terdiri dari probe konveks broadband (frekuensi 2,5 - 5,0 MHz) seberat 220 gram yang ditenagai baterai litium terintegrasi. Data volume citra mentah dikompresi menggunakan codec H.265/HEVC adaptif yang disesuaikan secara dinamis dengan kestabilan sinyal seluler atau internet satelit berkecepatan rendah (minimal 128 kbps). Antarmuka aplikasi Android memandu bidan melakukan 6 protokol sapuan standar obstetri dasar (basic obstetric sweep protocol).Hasil Uji Penetrasi Lapangan
Diuji coba pada 150 ibu hamil trimester 2 dan 3 di 6 puskesmas wilayah kepulauan Maluku Utara:1. Protokol sapuan terstandar berhasil direkam dan dikirimkan oleh bidan dalam waktu rata-rata 6,2 menit.
2. Konsultasi asinkron (store-and-forward) dan tele-bimbingan sinkron memungkinkan konfirmasi usia gestasi, estimasi berat janin, denyut jantung janin, dan lokasi plasenta dengan tingkat kesesuaian diagnosis (Cohen Kappa) sebesar 0,89 terhadap pemeriksaan USG konvensional di rumah sakit rujukan.
3. Berhasil mendeteksi dini 14 kasus presentasi abnormal dan 3 kasus plasenta previa letak rendah yang memerlukan rujukan berencana sebelum proses persalinan.